Mendengarkan itu Ternyata Kemampuan dan Kemauan.

Bertahun-tahun lalu, saya mendapati dua teman akrab saya berhenti bicara ketika saya menghampiri mereka. Sebagai Cancerian, jangan tanya bagaimana saya bisa begitu menangkap auto-diam nya teman saya ini.

Di lain hari, mereka berdua janjian ketemu tanpa saya. Dan membuat janji lagi, di lain hari, dengan ada saya. Mereka tidak membicarakan saya. Saya tahu itu. Mereka hanya tidak nyaman bercerita kalau saya ada.

I was so sad at that time. Dihindari oleh teman sendiri. Sudahlah Cancerian itu peka, sensitive pula. Saya berefleksi. Apa yang membuat mereka seperti itu? Apa kesalahan saya?

Bertahun kemudian baru saya temukan jawabannya. Meskipun saya bisa jadi teman yang baik, Saya bukanlah pendengar yang baik. Saya mendengar untuk membalas, untuk menghakimi kesalahannya, untuk membuktikan pikiran dan perkataan sayalah yang benar tentang cerita mereka. Saya mendengar bukan untuk menjadi pendengar. Saya menasehati.

I was not a good listener. Padahal, kemampuan mendengar, itu penting. Penting bagaimana?

Begini saja, bagaimana perasaan kita Ketika berbagi cerita dan lawan bicara kita bisa mendengarkan seluruh cerita kita tanpa menasehati, tanpa menghakimi? Meski kita tidak mendapat solusi, tapi seperti ada beban terangkat, “Saya merasa didengarkan. Saya tidak sendiri, ada seseorang yang memahami saya.”

Bukan begitu? Dan bagaimana rasanya jika hidup bersama orang-orang yang selalu ingin didengarkan tapi tidak mau mendengarkan?

Mendengarkan orang lain dengan kemampuan mendengarkan yang baik, bisa mengembangkan personality kita. We can expand our horizon. Terlalu luas rasanya untuk menuliskan apa yang kita dapatkan dengan menjadi pendengar yang baik. Yang paling berasa adalah, saya menjadi lebih bijak melihat sesuatu, menjadi lebih bersyukur karena bisa menjadi sesuatu di hidup orang lain, yang semoga ada manfaatnya. Telinga dari Tuhan ini, bisa dipakai untuk kebaikan. Semoga.

Ketika orang lain berkata, “Yuni, terima kasih sudah mau mendengarkan. You help me.” Atau ,

“Yuni, hanya kamu yang tahu soal ini. Saya tidak pernah cerita ke orang lain”

Dan mendapat doa-doa tulus hanya karena saya berusaha mendengarkan. Sesuatu yang abstrak, yang hanya bisa dirasakan.

Saya bersyukur, saya bisa sadar bertahun-tahun lalu, dan belajar setelahnya. Berubah, menjadi pendengar yang mendengarkan.

Mendengarkan ini, ternyata kemampuan, bukan bakat bawaan.

Mendengarkan bisa dilatih. Oiya, juga kemauan. Tergantung kita, mau atau tidak.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *