Sister Fillah, You’ll never be alone; Buku Kalis Mardiasih dan Ajakan Mengenal Perempuan

19 Mei 2020, setelah masa menunggu sekitar 3 pekan, paketan dari @akalbuku tiba juga di Palu. Di pagi yang sejuk dan hujan. Masih Ramadhan. Paketan adalah berkah, apalagi itu buku.

Buku ini buku terbaru Kalis Mardiasih. Waktu lihat pengumuman pre-ordernya sudah dibuka. Gerceplah diriku ini. Dengan dua teman lainnya. Sayang, hanya 125 lembar saja. Kuingin lebih tebal lagi.

Dimulai dengan pengantar dari Dr. Nur Rofiah, Bil. Uzm, doktor tafsir, yang mengingatkan bahwa kritis terhadap tafsir (bukan agamanya) adalah hal yang perlu hingga kini. Kritis yang cerdas, yang tentu saja adalah kelebihan Kalis, disajikan dalam lembar-lembar selanjutnya.

Diawali dengan kegelisahan Kalis terhadap satu postingan dakwah (?) yang jika bisa¬† kusebut itu, malas dan miskin. Malas berpikir faktor-faktor di balik satu cela seorang hamba, dan miskin empati terhadap sesama. “Dakwah tak hanya soal kebenaran, tapi juga soal etika dan tepa salira”. Kata Kalis. Kegelisahan 4 tahun lalu yang membuat Kalis Mardiasih, menjadi penulis hari ini.

Buku ini kaya. Ada kisah tentang Syaikhah Rahmah El Yunisiyah hingga Raja Najasyi di Habasyah. Ada sejarah tentang jilbab nusantara, hingga Afghanistan dengan burqanya. Ada Jacinda Ardern, Dr. Dalia Fadila hingga Fatimah putri Rasulullah.

Kalis juga mengajak pembaca mengenal Islam yang luas dan penuh kasih. Islam yang tentang sejarahnya di tanah Jawa hingga kisahnya di Saudi Arabia. Islam di masa lalu dan membayangkan Islam di masa depan. Islam yang bukan hanya satu macam, tapi Islam yang beragam.

Saya, mungkin adalah salah satu orang yang bersyukur kehadiran Kalis dikenal orang banyak, dan semoga lebih banyak.

Di tangan Kalis, kegelisahan jadi pemikiran yang Ia cari jawabannya. Kalis menggunakan akal, berkah dari Tuhan, untuk kebaikan, bukan hanya baginya, tapi untuk orang lain yang mungkin tak seberani Ia.

Kalis mengingatkan perempuan, bahwa selain tanggung jawab yang diemban, perempuan juga punya haknya yang sering dilupakan. Kalis membuka pemikiran perempuan, jangan terus-terusan lemah dan terbiarkan dalam diam. Perempuan juga punya daya, bukan untuk membangkang, tapi untuk tetap bisa bertahan dan berdiri, utuh menjadi dirinya sendiri.

Perempuan akan mendapat kemuliaan jika ia mendapatkan kesetaraan. Seharusnya tidak ada debat yang kelewatan soal setara ini. Sebab setara di sini, tidak pernah berarti sama. Kalis bisa berpikiran seperti ini, sebab telah lama Ia akrab dengan cerita kekerasan terhadap perempuan, bahkan jauh sebelum kita akrab melihat cerita serupa tersaji di media.

Kalis membuka mata kita, narasi perempuan yang termarginalkan bukan buatan. Itu nyata. Ada di mana-mana.

Selama yang Ia bisa, sekuat yang Ia mampu, Kalis sudah bersuara untuk kebenaran yang baik dan humanis. Aku tau, banyak Kalis Mardiasih lain, yang belum kukenali. Perempuan-perempuan yang bersuara tanpa lupa kodratnya.

Buku ini, dengan kalimatnya yang sederhana akan membuatmu berpindah-berpindah masa dengan sejarah, data dan fakta. Membuatmu mengenal Islam dari banyak pintu; Fiqh, Sosial, Sejarah, Kesehatan. Juga mengajakmu mengenali dan mencintai diri, tubuhmu sendiri.

Tulisan ini belum sama sekali bisa mewakili banyak hal yang Kalis sudah bagi.

Buku ini ganti atas bayaran dari sahabatku. Akan kusimpan, kujadikan warisan untuk anak cucu. Kalau tidak hilang dan tentu saja kalau Allah beri waktu dan restu.

Terima kasih, Kalis Mardiasih. Semoga buku ini ladang kebaikanmu, dan kebahagiaanmu (juga kekayaanmu :)), juga untuk editor, penata letak, penata sampul, ilustrator, penerbit, toko buku, kurir ekspedisi dan semuanya yang menjadikan buku ini sampai di tangan-tangan kami.

Semoga jadi rantai kebaikan, dari sini, di dunia hingga surga nanti.

 

Mei, 2020.

Y.A

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *