Nyobain Trem Pertama Kali di Karlsruhe, Jerman.

Trem/ n/  kereta yang dijalankan oleh tenaga listrik atau lokomotif kecil, biasanya digunakan sebagai angkutan penumpang dalam kota (kbbi).

Trem identik dengan Eropa dan di film-film abad pertengahan. Trem menjadi alat transportasi utama di Eropa

Oh iya, sebelum lanjut, Saya Yuni. Ini tulisan pertama di blog saya yang sempat hilang. Dan karena ini tulisan pertama, saya mau nulis salah satu pengalaman pertama yang bisa saya rasakan di 2019 kemarin.

Pertama kalinya saya naik trem! Waktu itu, Juni 2019 di Karlsruhe, Jerman. Semoga ada yang ke dua, tiga, dst nya :’). Trem itu kaya’ transportasi antara bus dan kereta. Punya jalur sendiri (kaya’ kereta) yang ditanam di bawah tanah, tapi lewatnya di jalan raya (kaya’ bus).

Trem juga punya halte/ tempat-tempat berhenti . Tarif sekali naik trem waktu itu 2.60 Eur. Setara sekitar 32.000an rupiah. Di dalam trem ada mesin bayar nya. Kita tinggal masukkan uang 2.60 Eur, kalau uangnya lebih, tenang, ada kembaliannya. Nanti tiketnya printed.

Tidak pernah ada petugas jaga yang periksa tiket selama saya naik trem. Kata teman saya yang pernah tinggal di (saya lupa kota mana) Jerman, petugasnya random periksa tiket. Karena budaya warga yang patuh peraturan, patuh pajak, patuh bayar, jarang sekali ada yang curang naik gratis. Tapi begitu ada yang kedapatan, urusannya bakal panjang sampai kantor polisi dan semacam kena denda dan blacklist gitu nama kita.

Naik trem dengan pemandangan gedung-gedung cantik khas Eropa itu menyenangkan. Waktu itu musim panas. Langit biru, orang-orang santai di jalan, menikmati matahari. Di dalam trem ini juga saya sering lihat banyak yang angkut sepedanya juga. Trem juga kendaraan yang bersih, aman dan nyaman. Ya, memang Jerman termasuk 1 dari 5 negara dengan transportasi umum terbaik di dunia.

Dan ternyata Indonesia dulu juga punya trem. Berawal dari trem tradisional dengan tenaga kuda di tahun 1869, inisiasi dari orang Belanda, Martinus Petrus. Lalu di tahun 1881, trem berganti menjadi tenaga uap. Dan di tahun 1897, trem listrik menggantikan trem uap. Menjadi favorit warga Jakarta kala itu, karena tarif nya yang murah. Sayang, di tahun 1960-an trem diberhentikan operasinya karena dianggap tak menguntungkan. Kabar lainnya, dikarenakan Presiden Soekarno waktu itu tidak suka melihat trem yang lalu lalang di depan istana. Mengganggu pemandangan dan katanya, ketinggalan zaman. Bekas-bekas rel lalu ditimpa aspal. Tamat sudah riwayat trem di Batavia. (Sumber: tirtodotid)

Mari membayangkan bagaimana kalau Jakarta atau kota-kota besar yang lain mengoperasikan trem lagi.

Oh iya Saya ke Jerman bukan liburan. Tuhan ngasih saya jalan belajar, hadir di International Conference on Emergency Pedagogy yang diadakan Friends of Waldorf Germany, melalui banyak tangan baik.

Mei 2020.

Y.A

 

 

2 thoughts on “Nyobain Trem Pertama Kali di Karlsruhe, Jerman.”

  1. Avatar Alex says:

    Nice story and nice picture! Lanjut 😁👍

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Post